Sunday, 31 August 2014

Jogja kamu kenapa?

Pernahkah anda mendengar nama Florence Sihombing? Yep! Dia adalah orang yang paling dicari se-Jogjakarta karena telah mengkritik Jogja melalu akun media sosialnya.  Kenapa saya menggunakan kata “kritik”? karena menurut saya, kata-kata yang telah ditulis Florence adalah murni perlampiasan emosi. Mungkin daya akan melakukan hal yang sama jika saya diposisinya, mungkin loh ya. Akan tetapi, bukan hal itu yang saya ingin bahas. Saya lebih tertarik dengan fenomena masyarakat (dalam kasus ini warga Jogja) menanggapi hal yang telah dilakukan oleh si Florence.

Lucu. Satu kata yang terlontar di mulut saya ketika melihat hal yang terjadi dengan Florence. Memang benar dia telah salah melontarkan hinaan terhadap kota Jogja, but it doesn’t mean she must be punish for it. Bukankah semua orang bebas berpendapat? Mau pendapat dia jelek atau tidak berbobot, itu adalah hak dia. Menjebloskannya ke penjara dapat melanggar HAM loh. Satu hal lagi yang perlu diingat, kita adalah Negara demokrasi, Negara kesatuan republik Indonesia. Kalau anda tersinggung dengan Florence yang menghina Jogja, bisa jadi anda lebih meninggikan Jogjakarta diatas Indonesia itu sendiri.

Saya sendiri berasal dari Kalimantan, bersuku Banjar. Akan tetapi, saya sangat menghargai hak berpendapat orang lain. Saya tetap bertutur kata dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, saya juga menghormati suku lain sebagai mana saya menghargai kalian yang bersuku Jawa. Bangga atas darah kesukuanmu itu sah-sah saja, tetapi klo bangga itu timbul dari merendahkan suku lain itu baru gawat. Di tempat saya di Sengata, bertikai dan baku hantam hanya karena beda suku itu adalah hal yang lumrah. Pertanyaannya, apakah Jogja siap akan hal itu? Hal yang saya ingin kritisi dari masalah ini adalah berbeda bukan berarti patut dimusuhi. There’s always 3 side of story; you, they, and the truth.

Gak relevan? bukannya saya mau memutarbalikkan fakta, akan tetapi kadang kala kita sebagai manusia takut akan sesuatu yang berbeda. Ya, manusia memang secara otomatis menghindari sesuatu yang berbeda agar tidak dimusuhi oleh lingkungannya. Contoh kasus Florence adalah keadaan dimana masyarakat Jogja yang tak siap dengan aspirasi yang terlontar dari mulut Florence. Klo saja masyarakat Jogja bisa lebih dewasa, hal ini tak akan pernah terjadi. Toh kata-kata Florence gak membunuh orang kan? apa kata-kata Florence menyebabkan finansial di Jogja menyusut? Hirauin aja lagi.

People, there is something important rather than Florence! bukannya saya membela dia, daripada kita membuang waktu mengurusi Florence, ada baiknya kita mengurusi hal yang lebih gawat, contohnya pembatasan BBM, isu gerakan Militan yang mengatasnamakan Islam, pembunuhan di nusa dua Bali atau kasus pengrusakan hutan oleh oknum-oknum liar. See? cuap-cuap Florence tidak ada apa-apanya dengan kriminalitas sesungguhnya. sekarang tinggal anda memilih; menjadi mereka yang latah dengan hal yang sedang happening atau menjadi warga cerdas yang tahu mana yang lebih penting. Saya rasa kalau kasus seperti Florence ini terulang lagi, NKRI hanya tinggal cerita rakyat semata.


We do wanna leave better people for better world, don’t we?

Wednesday, 20 August 2014

Review Guardians of the Galaxy: When the losers meet big screen

Untuk kalian pecinta Star Wars, film Guardians of The Galaxy ini adalah film WAJIB tonton! Banyak adegan kejar-kejaran dengan pesawat serta tembak-menembak dengan senjata canggih. Film ini sgt memanjakan Mata anda saat ditonton dlm versi 3Dnya. Akting Chris Pratt yg nyleneh dan nakal cukup menghibur anda selama film ini berlangsung. Film yg sebenarnya tak cocok di konsumsi oleh anak kecil, except you want to make your children watch a raccoon with his filthy mouth. Jangan berharap cerita yang berat, karena ini murni comic based yg konyol. Bagi kalian yg hipster, film ini diisi dgn Soundtrack tahun 80an. A great movie for fun. Seperti film-film marvel sblmnya, ada sneakpeak di after credit. Tidak ada aktor ganteng dan cakep, so get lose movie whore! Yep. Itu saja review saya seputar Guardians of the Galaxy. Selamat menonton! I am Groot!

Tuesday, 5 August 2014

Bolehkah saya tertawa?

"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri china"
mungkin itulah peribahasa yang sering diajarkan oleh orang tua serta guru kita untuk terus memotivasi anaknya agar giat belajar. akan tetapi, kenapa mesti china? ada apa dengan negeri orang? apa tak sebagus negeri sendiri? bolehkah saya tertawa?

China - Republik Rakyat China adalah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Istilah Survival for the fittest sudah berlaku semenjak mereka dilahirkan di tanah tersebut. banyak upaya mereka lakukan untuk terus hidup, tak heran banyak sekali dari mereka yang mencuat menjadi orang pintar, atlit, serta pengusaha multi-nasional. akan tetapi, apa benar kita ingin seperti mereka? menyiksa diri untuk sukses? ditengah banyaknya kemudahan disekitar kita? bolehkah saya tertawa?

Para orang tua seakan "memaksa" anak mereka untuk menjadi sukses. Dan ironisnya, pandangan mereka tentang sukses terkadang berlawanan dengan apa yang buah hati mereka pikirkan. punya mobil, rumah sendiri, bekerja di kantor dan menikah adalah apa yang orang tua pada umumnya inginkan. namun sebaliknya, sang anak lebih memilih berwirausaha, menjelajah, bertemu orang baru serta mencari tahu arti hidup yang sebenarnya. apakah itu salah? apakah tidak melakukan apa yang orang tua inginkan itu dosa? apakah standar sukses itu bersifat materialistik? bolehkah saya tertawa?

Indonesia, oh Indonesia. tak sedikit di antara pendudukmu yang masih berpikiran kolot. mengesampingkan mimpi anak dengan alasan agar mereka bisa sukses kedepannya. tak sedikit mereka yang membuang alat tulis mereka dan menggantinya dengan slip gaji dari sebuah perusahaan elit. tak sedikit dari mereka yang berhenti menggambar dan berpindah untuk mengangkat telepon-telepon penting dari customer mereka. dan tak sedikit dari mereka melakukan hal yang sama kepada anak cucu mereka. apakah ini sudah mendarah daging di negeri ini? apakah budaya ini begitu berat untuk dihapus? bolehkah saya tertawa?

"Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life" - Confucius