Pernahkah anda mendengar nama Florence Sihombing? Yep! Dia adalah orang yang paling dicari se-Jogjakarta karena telah mengkritik Jogja melalu akun media sosialnya. Kenapa saya menggunakan kata “kritik”? karena menurut saya, kata-kata yang telah ditulis Florence adalah murni perlampiasan emosi. Mungkin daya akan melakukan hal yang sama jika saya diposisinya, mungkin loh ya. Akan tetapi, bukan hal itu yang saya ingin bahas. Saya lebih tertarik dengan fenomena masyarakat (dalam kasus ini warga Jogja) menanggapi hal yang telah dilakukan oleh si Florence.
Lucu. Satu kata yang terlontar di mulut saya ketika melihat hal yang terjadi dengan Florence. Memang benar dia telah salah melontarkan hinaan terhadap kota Jogja, but it doesn’t mean she must be punish for it. Bukankah semua orang bebas berpendapat? Mau pendapat dia jelek atau tidak berbobot, itu adalah hak dia. Menjebloskannya ke penjara dapat melanggar HAM loh. Satu hal lagi yang perlu diingat, kita adalah Negara demokrasi, Negara kesatuan republik Indonesia. Kalau anda tersinggung dengan Florence yang menghina Jogja, bisa jadi anda lebih meninggikan Jogjakarta diatas Indonesia itu sendiri.
Saya sendiri berasal dari Kalimantan, bersuku Banjar. Akan tetapi, saya sangat menghargai hak berpendapat orang lain. Saya tetap bertutur kata dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, saya juga menghormati suku lain sebagai mana saya menghargai kalian yang bersuku Jawa. Bangga atas darah kesukuanmu itu sah-sah saja, tetapi klo bangga itu timbul dari merendahkan suku lain itu baru gawat. Di tempat saya di Sengata, bertikai dan baku hantam hanya karena beda suku itu adalah hal yang lumrah. Pertanyaannya, apakah Jogja siap akan hal itu? Hal yang saya ingin kritisi dari masalah ini adalah berbeda bukan berarti patut dimusuhi. There’s always 3 side of story; you, they, and the truth.
Gak relevan? bukannya saya mau memutarbalikkan fakta, akan tetapi kadang kala kita sebagai manusia takut akan sesuatu yang berbeda. Ya, manusia memang secara otomatis menghindari sesuatu yang berbeda agar tidak dimusuhi oleh lingkungannya. Contoh kasus Florence adalah keadaan dimana masyarakat Jogja yang tak siap dengan aspirasi yang terlontar dari mulut Florence. Klo saja masyarakat Jogja bisa lebih dewasa, hal ini tak akan pernah terjadi. Toh kata-kata Florence gak membunuh orang kan? apa kata-kata Florence menyebabkan finansial di Jogja menyusut? Hirauin aja lagi.
People, there is something important rather than Florence! bukannya saya membela dia, daripada kita membuang waktu mengurusi Florence, ada baiknya kita mengurusi hal yang lebih gawat, contohnya pembatasan BBM, isu gerakan Militan yang mengatasnamakan Islam, pembunuhan di nusa dua Bali atau kasus pengrusakan hutan oleh oknum-oknum liar. See? cuap-cuap Florence tidak ada apa-apanya dengan kriminalitas sesungguhnya. sekarang tinggal anda memilih; menjadi mereka yang latah dengan hal yang sedang happening atau menjadi warga cerdas yang tahu mana yang lebih penting. Saya rasa kalau kasus seperti Florence ini terulang lagi, NKRI hanya tinggal cerita rakyat semata.
We do wanna leave better people for better world, don’t we?
No comments:
Post a Comment