Friday, 26 September 2014
Karnaval, Macet dan Negeri Ini
kalaupun saya boleh jujur, saya sangat membenci karnava. Rasa benci saya melebihi reaksi saat pertama kali menonton Ganteng-ganteng serigala. Benci yang terlampau capek. Karnaval itu sah-sah saja, toh tidak ada hukum tertulis di negeri ini untuk melarang karnaval berlangsung. Asal tidak merugikan banyak pihak. Bukannya Indonesia sangat terbuka akan berbagai hal? sampai-sampai tayangan tak mendidik yang berlangsung berjam-jam pun tidak dipermasalahkan. Karnaval pun seharusnya begitu, boleh dilaksanakan asal bukan di hari minggu dan tidak menimbulkan kemacetan.
saya bukan orang yang sedang mengantri iPhone 6, saya hanya seorang mahasiswa yang ingin pulang ke kostnya. Jadi jangan biarkan saya menghabiskan hampir 1/6 hari saya dengan kemacetan yang mungkin bila Pak Prabowo merasakannya ia tak akan segan mengadu kesekian kalinya ke Mahkamah Konstitusi. Saya hanya ingin pulang.
Buat apa melangsungkan karnaval jikalau malah menimbulkan polemik baru.? bukanya kita diajarkan untuk tidak menari diatas penderitaan orang lain? ah, mungkin warga Dinoyo lupa akan hal itu, sama seperti negara ini yang lupa kalau Indonesia dibangun atas asas Pancasila dan Demokrasi, bukan sistem kilafah. Setidaknya saya saya lebih jujur ketika saya berkata saya membenci karnaval. I-F*cking hate Carnival!
Sunday, 7 September 2014
UKBI bro, do you even take it?
Pemerintah yang tahu akan hal itu rupanya tak hanya tinggal diam menyikapi hal ini. Sudah lama pemerintah mencoba menguatkan penggunaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah program Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia atau yang disingkat UKBI. UKBI sendiri telah resmi diberlakukan sesuai dengan SK Mendiknas Nomor 152/U/2003 tanggal 28 Oktober 2003. Seperti yang telah saya kutip dari laman badan bahasa mendiknas, Dengan UKBI seseorang dapat mengetahui mutu kemahirannya dalam berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan di mana dan berapa lama ia telah belajar bahasa Indonesia. Sebagai tes bahasa untuk umum, UKBI terbuka bagi setiap penutur bahasa Indonesia, terutama yang berpendidikan, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Dengan UKBI, instansi pemerintah dan swasta dapat mengetahui mutu karyawan atau calon karyawannya dalam berbahasa Indonesia. Demikian pula, perguruan tinggi dapat memanfaatkan UKBI dalam seleksi penerimaan mahasiswa. Singkatnya, dengan adanya UKBI pemerintah berharap penggunaan bahasa Indonesia di kalangan masyarakat sendiri menjadi tinggi dan tak menutup kemungkinan nantinya akan diberlakukan juga di negara-negara yang menuturkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.
Lalu kenapa saya tiba-tiba membahasa soal UKBI? hehe. Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya diikutsertakan oleh instansi tempat saya magang untuk menjalani tes UKBI. Hampir sama dengan tes TOEFL, tes ini juga menggunakan pensil 2B, kertas uji komputer, serta radio. Yap, persis seperti TOEFL kamu akan menjumpai sesi mendengarkan (Listening), sesi merespon kaidah (Grammatical Error), membaca (Reading), menulis (Writing), serta berbicara (Speaking). Kebetulan, saya mengikuti tes basic yang hanya berjumlah 3 sesi, yaitu mendengarkan, merespon kaidah dan membaca. Nilai yang didapat berkisar antara 0-900 poin. 1 hal yang menarik dari UKBI adalah tes ini tidak ada pengurangan poin, jadi jika jawaban kamu salah kamu tidak perlu takut. Hehe. UKBI juga mempunyai predikat yang diberikan sesuai dengan skor yang kamu dapat; Istimewa, Sangat Unggul, Unggul, Madya, Semenjana, Marjinal, sampai Terbatas.
Setelah saya selesai mengikuti tes UKBI ada perasaan bangga dan juga sedikit haru. Di satu sisi saya bangga telah berhasil mengikuti tes dan menjalankan kewajiban saya sebagai warga negara Indonesia, namun disisi lain saya sedikit kecewa karena popularitas UKBI sangat rendah di kalangan masyarakat. Mungkin bukan hanya bahasa daerah, bahkan popularitas bahasa kita telah tergeser jauh dengan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Kecewa? tidak. Saya rasa ini tantangan tersendiri bagi kita mahasiswa yang belajar tentang bahasa untuk lebih mempopulerkan dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar di kalangan masyarakat Indonesia. Langkah pertama? ayo ikut tes UKBI! jangan malu untuk menjadi penggerak. Bukankah kita agen perubahan?
“If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.”
―Nelson Mandela
Tuesday, 2 September 2014
Nongkrong: Kamu tipe yang gimana?
Malang - tempat saya menghabiskan waktu adalah surga bagi mahasiswa yang hobi nongkrong. bagaimana tidak? disini tercatat ada lebih dari 30 cafe dan resto milik pribadi, belum termasuk resto cepat saji. Tak heran jika saya mengibaratkan wisata yang populer di Malang adalah wisata Cafe. Waktu anda seharian penuh pun tak mampu untuk mengunjungi 1 persatu cafe yang ada di Malang! wanna try?
Tak heran kehidupan mahasiswa di Malang sedikit berbeda dengan kehidupan di kota-kota besar lainnya. Di sini kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong atau sekedar mengopi di cafe ketimbang menghabiskannya ke resto-resto cepat saji yang berada di Mal-mal elit. Why? selain karena kurangnya tersedia warabala seperti J.co atau Starbuck di Malang, Cafe atau coffeeshop lokal lebih populer dan prestige di mata mahasiswa. Dan banyaknya pilihan cafe membuat mahasiswa seperti saya tak cepat bosan dengan Malang, selalu ada saja pilihan untuk menghamburkan uang. Entah itu dimsum, mie, kopi, risol atau sekedar ceker! You must try it.
Dari kegiatan nongkrong di Malang, saya menggolongkan ada setidak nya 4 golongan Penikmat cafe:
1. Idealis
golongan ini biasanya sangat spesifik dalam menikmati cafe yang ia tuju, mulai dari kualitas makanan dan minuman, service, reputasi cafe dan harga. Golongan yang satu ini biasanya jarang berpindah-pindah tempat nongkrong karena sudah terlanjur klop dengan 1 atau 2 cafe. kalaupun mereka mencari cafe baru hanya sekedar membandingkan rasa atau harga dan kenyamanan dengan cafe-cafe sebelumnya. Bagi mereka, kenyamanan itu nomer 1. Bahkan dalam keadaan ekstrim, mereka rela membayar lebih untuk kualitas yang terbaik. You must try hard to convince them when you offer the cafe you wanna visit.
2. Nomaden
golongan ini sangat berkebalikan dengan golongan idealis, mereka sangat suka untuk berpindah-pindah. Cafe baru merupakan target utama mereka. Mereka tidak membuat kesepakatan seperti golongan idealis, bagi mereka cafe merupakan tempat untuk membuang jenuh atau sekedar menikmati suasana baru. Golongan ini biasanya didominasi oleh Cewek.
3. Seleb Sosmed
Ini adalah salah satu golongan yang menarik. Mereka biasanya secara berkala nongkrong di cafe-cafe tertentu. kegiatan mereka adalah check-in, promo dan buzzer tentang cafe-cafe yang mereka sedang singgahi. Efeknya? tak sedikit wajah-wajah baru tertarik dan langsung menyerbu cafe-cafe yang ada. Tetapi terkadang golongan ini bisa sangat bias terhadap 1 jenis cafe. Maklum, mereka di bayar untuk itu.
4. Kemana aja Terserah Elu Sob
Selalu ada 1 teman kita yang ketika di ajak untuk nongkrong selalu ngomong "terserah deh, yang penting nongkrong". Entah apa motivasi mereka, yang jelas golongan ini sangat cocok dijadiin teman ketika anda males nongkrong sendiri. Mereka jarang protes, mereka juga jarang nolak untuk di ajak jalan dan mereka ga ngerepotin.
sebenarnya ada 1 golongan lagi, dan golongan ini terbukti seringkali membuat saya kesel. Golongan ini saya sebut "Ayo Nongkrong, tapi ane bayarin ya". Sukanya ngajak teman-temannya untuk nongkrong, tetapi kalau di ajak ke tempat A protesnya mahal, ke tempat B protesnya ga suka tempatnya, eh giliran ke tempat C nongkrongnya ngutang. Yakinlah, mereka pasti ada di sekitar anda. Hobi mereka memang nongkrong, tapi sukanya nyusahin. Saran saya, jangan ajak mereka nongkrong kalau anda tidak siap dihutangin.
Mungkin itu saja dari saya. Gak semua yang saya tulis itu benar, karena ini hanya berdasarkan pengamatan saya selama 2 tahun di dunia nongkrong-menongkrong. Kalau memang tidak berkenan bisa tulis kritik anda di comment box. Sekali lagi terimakasih sudah membaca.
Saya tipe yang pertama loh. Kamu tipe yang mana?
"You can't buy happiness but you can buy coffee and that's pretty close." - Anonymous
Sunday, 31 August 2014
Jogja kamu kenapa?
Gak relevan? bukannya saya mau memutarbalikkan fakta, akan tetapi kadang kala kita sebagai manusia takut akan sesuatu yang berbeda. Ya, manusia memang secara otomatis menghindari sesuatu yang berbeda agar tidak dimusuhi oleh lingkungannya. Contoh kasus Florence adalah keadaan dimana masyarakat Jogja yang tak siap dengan aspirasi yang terlontar dari mulut Florence. Klo saja masyarakat Jogja bisa lebih dewasa, hal ini tak akan pernah terjadi. Toh kata-kata Florence gak membunuh orang kan? apa kata-kata Florence menyebabkan finansial di Jogja menyusut? Hirauin aja lagi.
Wednesday, 20 August 2014
Review Guardians of the Galaxy: When the losers meet big screen
Untuk kalian pecinta Star Wars, film Guardians of The Galaxy ini adalah film WAJIB tonton! Banyak adegan kejar-kejaran dengan pesawat serta tembak-menembak dengan senjata canggih. Film ini sgt memanjakan Mata anda saat ditonton dlm versi 3Dnya. Akting Chris Pratt yg nyleneh dan nakal cukup menghibur anda selama film ini berlangsung. Film yg sebenarnya tak cocok di konsumsi oleh anak kecil, except you want to make your children watch a raccoon with his filthy mouth. Jangan berharap cerita yang berat, karena ini murni comic based yg konyol. Bagi kalian yg hipster, film ini diisi dgn Soundtrack tahun 80an. A great movie for fun. Seperti film-film marvel sblmnya, ada sneakpeak di after credit. Tidak ada aktor ganteng dan cakep, so get lose movie whore! Yep. Itu saja review saya seputar Guardians of the Galaxy. Selamat menonton! I am Groot!
Tuesday, 5 August 2014
Bolehkah saya tertawa?
mungkin itulah peribahasa yang sering diajarkan oleh orang tua serta guru kita untuk terus memotivasi anaknya agar giat belajar. akan tetapi, kenapa mesti china? ada apa dengan negeri orang? apa tak sebagus negeri sendiri? bolehkah saya tertawa?
China - Republik Rakyat China adalah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Istilah Survival for the fittest sudah berlaku semenjak mereka dilahirkan di tanah tersebut. banyak upaya mereka lakukan untuk terus hidup, tak heran banyak sekali dari mereka yang mencuat menjadi orang pintar, atlit, serta pengusaha multi-nasional. akan tetapi, apa benar kita ingin seperti mereka? menyiksa diri untuk sukses? ditengah banyaknya kemudahan disekitar kita? bolehkah saya tertawa?
Para orang tua seakan "memaksa" anak mereka untuk menjadi sukses. Dan ironisnya, pandangan mereka tentang sukses terkadang berlawanan dengan apa yang buah hati mereka pikirkan. punya mobil, rumah sendiri, bekerja di kantor dan menikah adalah apa yang orang tua pada umumnya inginkan. namun sebaliknya, sang anak lebih memilih berwirausaha, menjelajah, bertemu orang baru serta mencari tahu arti hidup yang sebenarnya. apakah itu salah? apakah tidak melakukan apa yang orang tua inginkan itu dosa? apakah standar sukses itu bersifat materialistik? bolehkah saya tertawa?
Indonesia, oh Indonesia. tak sedikit di antara pendudukmu yang masih berpikiran kolot. mengesampingkan mimpi anak dengan alasan agar mereka bisa sukses kedepannya. tak sedikit mereka yang membuang alat tulis mereka dan menggantinya dengan slip gaji dari sebuah perusahaan elit. tak sedikit dari mereka yang berhenti menggambar dan berpindah untuk mengangkat telepon-telepon penting dari customer mereka. dan tak sedikit dari mereka melakukan hal yang sama kepada anak cucu mereka. apakah ini sudah mendarah daging di negeri ini? apakah budaya ini begitu berat untuk dihapus? bolehkah saya tertawa?
"Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life" - Confucius
Sunday, 1 June 2014
#RandomPost: Mahasiswae Endernicus
Ga kerasa sudah 6 semester saya menimba ilmu i tanah Brawijaya ini. Banyak sekali suka-duka yang saya alami, mulai dari belajar bahasa jawa, makan ketan, diusir dari kost, sampe kesasar di malang kabupaten. Klo ditelisik kebelakang beberapa hal yang saya alami adalah hal-hal konyol. Hal-hal membanggakan? Sangat sedikit, sesedikit rambut deddy corbuzier.
Banyak keluarga dan teman-teman bertanya "di Malang 3 tahun udah dapet apa aja?" Yah boro-boro dapet jodoh, dapet tempat buat tidur aja udah alhamdulillah. Maklum, saya jarang tidur di kost karena kost saya ada jam malemnya. Alhasil saya selalu tidur dengan berpindah-pindah tempat atau nomaden. Kadang saya tidur di tmpt teman, kadang di kost, kadang juga di kost teman (apa bedanya coba?).
Kampus adalah rumah ketiga bagi saya, setelah rumah saya yang asli dan kost temen. Klo disuruh kenalan, saya lebih kenal teman-teman saya di kampus ketimbang penghuni kost saya. Saya sebagai anak kost udah di zona murtad sepertinya. Di kampus juga saya merasa bebas; saya merasa tidak ada beban hidup, penuh canda tawa, serta hedonisme. (Tunggu sampe anda bertemu yang namanya praktikum dan tugas terstruktur). Selain itu kampus sangat menarik, saya sering kali menemukan hal-hal aneh di kampus, seperti banyaknya fakir wifi, gerombolan aktivis kampus, serta para rohis-rohis yang style nya sangat agamis bgt. (Seakan-akan bau kurma terpancar dari wajahnya). Ini salah satu bukti klo kehidupan kampus sangatlah unik.
Menginjak semester 6 ini membuat saya merasa tua dan bapuk. Ga kerasa sebentar lagi KKN lalu persiapan skripsi. (Itupun klo ga ada yang ngulang, hadehh) nilai pun naik turun seperti index mata uang rupiah yang selalu php. Tapi saya tetap bersyukur, paling enggak saya mengerti bagaimana menjadi mahasiswa yg seutuhnya, bukan mahasiswa yang ngebut nilai dan berharap lulus 3,5 thn cum laude lalu kerja di perusahaan multi-nasional. C'mon, hidup tidak seenak martabak manis. Akhir kata, daripada saya ngerandom ga jelas, saya cuma berpesan kepada teman-teman seperjuangan. Jadilah mahasiswa yang bisa menikmati setiap detiknya kehidupan kampus, jangan takut untuk bolos dan mendapat nilai rendah. Karena IP bukan penentu anda bakal sukses. ( yah, tapi paling enggak bisa membuat orang tua anda bangga). Ciao!