Thursday, 10 January 2013

Hari ke-10: Absurd Kesepuluh: Menginjak Neraka

Malam ini udara dingin begitu menusuk, sangat dalam, sampai aku tak sadar akan masalah yang kuhadapi. Suara lantang penjaja kopi semakin menambah kelengkapan malam. Jari-jemari menari indah mengetuk setiap tombol keyboard, tak terasa sejam berlalu sejak aku membuka laptop. Letih memang, tapi bukan nya itu lebih baik daripada tidak ikut UAS? "mau tidak mau tugas itu harus selesai malam ini juga!" gumamku. Kopi yang tak kunjung datang semakin menambah daftar kekesalanku malam itu. Semakin larut bukannya semakin membuatku mengerti akan tugas yang kuhadapi, melainkan semakin memperburuk apa yang sudah kurencanakan tadi pagi. Tidak ada yang bisa disalahkan, ini semua bukan perkara tugas, atau perkara kopi. Aku hanya ingin marah malam ini.


Malam tak lagi sendiri, begitupun denganku


Malam itu sebuah sms menyadarkanku, aku telah dewasa, siap ataupun tidak. Berkepala dua mungkin membuat sebagian orang ngeri. Mereka menganggap diri mereka tidak siap melepas masa-masa belasan mereka, sebuah hal lucu menurutku. Malam itu aku tak lagi mengumpat akan tugasku, semua menjadi lebih tenang sekarang. Seakan-akan awan badai telah pergi menjauh dari langit malam itu. Apa ini efek sms? kurasa tidak. Ini bukan soal hal sepele seperti "selamat ulang tahun" yang tertera jelas di layar handphone, ini lebih dari itu. Ini soal memaknai hidup yang telah berpindah ke tempat yang baru, sebuah tantangan yang harus dijalani, a whole new level.

 Terkadang muncul suatu perasaan mengganjal saat mencoba memberi nasihat kepada orang sekitarku. "aku bukan orang yang baik. Lantas, kenapa aku berani bilang kalau dia salah?" pikirku dalam hati. "atau ini akibat umurku yang menginjak 20?" lanjutku. Inilah yang kutakutkan, aku mulai larut dalam kondisi yang serba heran. Aku yakin tak ada yang salah akan angka 20, ini lebih kearah sok bijak. Langit memang tak diliputi oleh awan badai, tapi langit tetap tak berbintang malam ini. Perasaan yang bertumpuk malam ini membuat kaki ku seakan menginjak neraka. Terkesan ngeri, tapi lebih seperti penebusan dosa bagiku. Layaknya mahasiswa yang terus merevisi tugasnya demi sebuah kata iya. #30HariBercerita /@ecchisan

No comments:

Post a Comment