Thursday, 3 January 2013

Hari ke-3: Absurd ketiga: Ketika Presiden Absurd

"Dibawah ini adalah rekaman wawancara sebuah stasiun televisi swasta (bukan SCTV tentunya, jadi pasti pembawa acaranya bukan Jeremy Teti) dengan pembicara saya Prof. Dr. Akhmad Al-Fahrezy Al-Amin M.IT Pdd. (yang dengan aneh nya telah menjabat menjadi Presiden RI ke-46). berikut rekamannya:


Pembawa Acara: "Bapak Presiden, Senang sekali bertemu dengan Bapak pada malam ini" (memandang dengan raut wajah mirip kerutan pada belimbing).

Saya: "Iya, sama-sama mbak"

Pembawa Acara: "Tolong jangan nyengir kuda gitu pak" (Mulai risih sepertinya).

Saya: "ta-tata-tapi ... wajah saya memang begini" (Penuh tatapan polos).

Pembawa Acara: "..." (#KemudianHening)

Pembawa Acara: "Oke! ... kita lanjut ke pertanyaan pertama saja pak" (Mencoba mengalihkan pembicaraan).

Saya: "it's okay, it's okay mbak ... silahkan" (dengan tatapan yang masih polos #Hoekk).

Pembawa Acara: "Pertanyaan pertama, bagaimana pandangan bapak terhadap kebudayaan barat yang semakin menjadi-jadi di Indonesia ini? apakah berdampak buruk kedepannya pak?".

Saya: "Apanya yang jadi mbak?"

Pembawa Acara: "Maksud bapak?" (setengah heran).

Saya: "Maksud saya siapa yang jadi? saya masih keliatan Indonesia banget kok, ga mirip Tom Cruise khan?".

Pembawa Acara: "Bisa diulangi lagi mungkin pak?" (Sudah benar-benar heran)

Saya: "Maksud saya begini ... (pembicaraan disensor karena terlalu memusingkan dan telah membuat pembawa acara meminum Antimo) ... seperti itu kiranya mbak".

Pembawa Acara: "Kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya saja pak (terlihat benar-benar ingin menyelesaikan wawancara secepat Entrostop) Apa yang membuat bapak berfikir mencalonkan diri menjadi presiden?".

Saya: (sembari meneguk sebotol Kiranti) "Saya jadi presiden karena jadi Artis itu sudah mainstream! maaf saja yah mbak, Artis itu kerjaannya masuk infotainment aja. Nyanyi enggak, Acting enggak, Berbakat enggak, Cerai Iya. Mending jadi presiden mbak, udah followernya banyak kayak Obama, bisa diangkat jadi film lagi kayak Pak Habibie dan Bu Ainun".


Pembawa Acara: "Pandangan yang bagus sekali pak. (tampaknya ia blank total gara-gara jawaban dari Pak Presiden). "Pertanyaan ketiga pak, Kenapa bapak mengelu-elukan jargon Berani Absurd itu Baik? apa yang membuat bapak berfikir seperti itu?"

Saya: "saya kira karena menjadi normal itu terlalu flat. Orang tak akan menemukan yang ia cari, ketika ia hanya melakukan hal yang sama tiap hari. Life is never Flat, mereka butuh Chitato agar maju" (sembari mengeluarkan sebungkus Chitato) "Absurd itu adalah prinsip mbak. Ga semua orang bisa absurd dan ga semua orang absurdnya sama. Contoh Kemal, dia itu absurdnya orang Arab-Jakarta, Saya Absurdnya Orang Pedesaan-Metromini, Jelas beda mbak".

Pembawa Acara: (Terlihat lebih pucat dari kulit bengkoang) "ya, sayang sekali waktunya sudah habis pak, sayang sekali perjumpaan kita berakhir disini" (tampak senang).

Saya: "siapa bilang mbak? kita masih bisa berjumpa diluar" (melirik dengan muka penuh nafsu binal).

Pembawa Acara: "Maksud saya acaranya yang selesai pak" (membalas dengan tatapan kemayu kemangi) "terima kasih telah menyaksikan acara ini, semoga berman... tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttt................... (Acara dihentikan karena tali kaset telah habis) #30HariBercerita /@ecchisan

No comments:

Post a Comment